R e n c a n a I n v e s t a s i

Blog EntryPilihan Investasi (Perdagangan berjangka)Apr 26, '07 9:07 AM
for everyone

Artikel ini saya ambil dari situs BBJ dan ditulis Oleh Bapak Hasan Zein Mahmud

 

Financial Futures

by Hasan Zein Mahmud
Instrumen derivatif sering "dicap" sebagai memainkan fungsi sekunder (secondary role) dalam ekonomi. Mereka yang berspesialisasi di bidang ini tak perlu berkecil hati. Ungkapan itu memang tak sepenuhnya salah. Kehadiran opsi atas saham (stock options) dan kontrak berjangka atas indeks harga saham (stock index futures) memang tak berurusan langsung dengan pengerahan dana masyarakat. Perdagangan kontrak berjangka valas (currency futures) memang tak serta-merta meningkatkan aktivitas impor ekspor ataupun transaksi keuangan perusahaan sektor riil. Perdagangan kontrak berjangka komoditi (commodity futures) belum tentu memiliki magnitud dalam peningkatan produksi komoditas terkait.

Tapi memandang enteng makna ekonomis kreasi instrumen keuangan seperti contoh yang saya sebutkan di atas jelas merupakan kesalahan besar. Pengalaman krisis ekonomi tiga tahun terakhir menjadi bukti tak terbantah bahwa fluktuasi nilai mata uang menggigit dan merontokkan kegiatan impor ekspor, bahkan juga sektor produksi yang tidak banyak terkait dengan transaksi dalam valas. Kehadiran American Depository Receipts (ADR) di pasar modal Amerika Serikat memungkinkan pemodal Amerika menikmati pembagian laba dan potensi pertumbuhan perusahaan-perusahaan di negara berkembang, tanpa harus capek-capek melakukan perdagangan di, dan memenuhi ketentuan perdagangan, negara asal. Mereka berdagang di negeri mereka sendiri, menggunakan denominasi mata uang mereka sendiri, mengikuti aturan mereka sendiri dan menggunakan pialang negeri mereka sendiri. Tidak saja mengecilkan peran bursa domestik sebagai penyedia pasar sekunder, tapi juga mengebiri potensi rizki pialang domestik dari komisi transaksi. Cerita klasik tetang nasib petani penghasil produk primer yang menjadi korban fluktuasi harga bisa ditemukan hampir di setiap buku sejarah ekonomi. Yaitu ketika berita baik tentang keberhasilan panen tiba-tiba berubah menjadi malapetaka karena harga produk yang dihasilkan jatuh di bawah biaya produksi. Cerita tragis macam begini seringkali diakhiri dengan adegan membakar, atau membuang ke laut, sebagian hasil produksi untuk mempertahankan imbangan yang layak antara permintaan dan pasokan.

Sejujurnya, kalau saya diberikan keleluasaan untuk mengembangkan perdagangan berjangka, saya pasti akan mulai dengan derivatif keuangan. Alasan pertama saya bersifat makro. Secara intuitif saya menangkap bahwa produk keuanganlah yang saat ini paling dibutuhkan pasar. Kalau kita setuju bahwa legitimasi keberadaan Bursa Berjangka - seperti halnya bursa-bursa lain juga - adalah to serve market needs, maka penentuan prioritas kontrak yang akan diperdagangkan, seyogianya ditetapkan berdasar kebutuhan pasar pula.. Pada dasarnya ada tiga jenis produk derivatif di bidang keuangan: currencies, interest rate (bonds) dan saham. Coba kita jawab bersama pertanyaan kualitatif yang berhubungan dengan valas, berikut: Bisnis apa di negara ini yang tidak rentan terhadap perubahan nilai tukar? Kenapa para eksportir enggan mengkonversikan hasil ekspornya ke dalam mata uang rupiah? Prinsip bisnis yang prudent mengharuskan dunia usaha memilih apakah akan menyimpan likuiditasnya dalam bentuk rupiah, dolar atau yen. Di mana benchmark (tolok ukur) yang bisa mereka jadikan pedoman pengambilan keputusan? Bahkan rumah tangga yang tidak berbisnis sekalipun akan merasa tercekik oleh kenaikan nilai dolar ketika harus berobat ke luar negeri atau mengirim biaya sekolah anaknya di manca negara.

Instrumen lindung nilai atas fluktuasi harga mata uang, sedikit banyak memang sudah tersedia di pasar dalam bentuk transaksi forward dan fasilitas swap. Bahkan mereka yang berhasrat melakukan spekulasi valas pun siap dilayani oleh commission houses yang kini menjamur. Namun demikian, memperkenalkan kontrak berjangka mata uang - katakanlah Rp-US$ - di bursa yang terorganisir tentu masih menyodorkan sederet manfaat. Sebut misalnya: (1) Mengubah transaksi yang tidak legal - setidak-tidaknya dalam kacamata Undang-Undang No 32 tahun 1997 Tentang Perdagangan Berjangka Komoditi - menjadi kegiatan yang legal; (2) Proses transaksi yang terorganisir dan proses pembentukan harga yang transparan merupakan salah satu syarat agar harga yang terjadi bisa berfungsi sebagai benchmark (3) Hadirnya unsur pengawasan pemerintah akan memberikan perlindungan yang lebih baik kepada para nasabah, terutama dari commission house yang "nakal" (4) Keberadaan lembaga kliring yang menjamin penyelesaian transaksi akan mengeliminir counter-party risk dan (5) Ongkos lindumg nilai secara keseluruhan akan menjadi semakin murah.

Sekarang tentang tingkat bunga. Adakah stratum masyarakat yang tidak terpengaruh oleh naik turunnya tingkat bunga? Perubahan tingkat bunga merupakan satu faktor dominan dalam keputusan konsumsi dan investasi. Di waktu yang akan datang, suka atau tidak suka, pemerintah Indonesia harus mengembangkan pasar obligasi pemerintah. Fluktuasi tingkat bunga merupakan pertimbangan utama dalam keputusan investasi pada efek-efek hutang. Kenaikan tingkat bunga, misalnya akan memukul pemerintah karena harus menyediakan anggaran yang lebih besar untuk membayar bunga obligasi (khususnya obligasi dengan tingkat bunga mengambang). Pada ujung yang lain, kenaikan tingkat bunga juga memukul pemegang obligasi (terutama obligasi dengan bunga tetap), karena portfolionya mengalami penurunan harga yang tajam.

Perdagangan kontrak berjangka atas indeks harga saham memberikan berbagai manfaat pula. Mulai dari fasilitas hedging, kemudahan pembentukan portfolio dan kemudahan penyesuaian perimbangan risk return suatu portfolio, sampai fungsinya memfasilitasi pembentukan index funds dan strategi pasif dalam berinvestasi.

Saya juga memiliki alasan mikro kenapa memilih mengembangkan derivatif keuangan terlebih dahulu. Pengembangan kontrak berjangka komoditi (commodity futures) membutuhkan persipan yang jauh lebih panjang daripada pengembangan kontrak berjangka keuangan. Salah satu prasyarat suksesnya perdagangan berjangka adalah apabila didukung oleh viable, active, efficient and transparent underlying market, involving sizeable commercial interest and minimum government intervention. Pemenuhan persyaratan itu jelas lebih mudah pada produk finansial daripada produk komoditi. Konbtrak berjangka komoditi juga mengharuskan penilaian yang amat serius atas kesiapan infrastruktur penunjang seperti gudang atau tangki, penilaian mutu, masalah fungibility dan lain-lain. Pengalaman berbagai bursa berjangka di luar negeri juga menunjukkan bahwa likuiditas yang sustainable, yang bisa memberikan sumber penghasilan bagi bursa berjangka berasal dari produk finansial. Lalu apa salahnya dengan scenario berikut: Kembangkan dulu kontrak berjangka keuangan, kemudian menggunakan hasil tambah dari kegiatan ini untuk membiayai pengembangan kontrak berjangka komoditi?

harmony19 wrote on Dec 5, '07
kirain...tulisan sendiri...ternyata tulisannya om hasan :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help